Aku dan Sahabatku Menemukan Nikmat di Masjid


Akhirnya pulang juga, Sebelum nyampe rumah Aku dan Sahabatku biasa mampir Sholat Dzuhur di Masjid Juntinyuat, Masjid yang letaknya dekat dengan sekolah kami. untuk melepas lelah, setelah Sholat kami biasa duduk-duduk dulu di depan Masjid, sembari menikmati segarnya angin yang menguliti tubuh kami yang sedang gerah.

Selesai sholat, saat keluar dari Jama’ah sholat, saya bersama sahabat saya yang hendak duduk di depan Masjid tiba-tiba dipanggil oleh Pria setengah baya,nampaknya dia lebih duluan duduk di depan Masjid . Sepertinya dia juga sama dengan kami sedang melepas lelah dan menghilangkan gerah akibat panasnya siang hari yang sangat terik.

“de, mari duduk denganku!” tawar pria setengah baya.

terjadilah perbincangan yang menjurus berkenalan antara Aku dan Sahabatku bersama Pria setengah baya itu. pria itu bertanya tentang kami dan keberadaan sekolah kami, kami berdua pun menjawab apa adanya tentang sekolah kami. karena kami masih mengenakan seragam sekolah jadi dia betanya tentang sekolah kami sebagai awal pembicaraannya.

dalam perbincangannya Pria itu banyak menceritakan tentang waktu mudanya, ketka dia telah menggapai prestasi-prestasi yang membaggakan saat usianya sama tidak jauh beda dengan kami, “Alhamdulillah, habis sholat kami mendapatkan Motivasi dari orang yang entah itu siapa tapi sudah memberikan dorongan positif buat kami” hatiku membatin.

kami mengerti kalau semua yang dia ceritakan hanyalah untuk memotivasi kami semata, bukan untuk kesombongan, tentunya karena dia melihat kami sebagai anak pelajar, jadi dia ingin memberi semangat kepada kami dengan bernostalgia di masa lalunya.

setelah beberapa lama kami berbincang, dia mengakhiri dengan sebuah pertanyaan“Ade-ade tahu gak arti nikmat itu apa?”

belum sempat kami menjawab dia menambahkan pertanyaan lagi.

”artikan menurut pendapat ade sendiri, nggak usah susah-susah?”

mendengar pertanyaan itu kami hanya saling menatap, seakan ingin berkata “kamu tahu nggak?”

pria itu mengerti kalau kami berdua tidak bisa menjawabnya, maka dia memberikan pertanyaan lagi, mungkin itu adalah pertanyaan pancingan agar kami bisa menjawab pertanyaannya, “sekarang saya beri pemisalan. misalkan ada uang Rp.5000,- di saku kalian itu namanya nikmat bukan ?”.

kembali kami saling menatap, namun kali ini saya menjawab “hm…kalo menurut saya uang Rp.5000,- itu adalah nikmat” kemudian disusul sahabat saya dengan jawaban sama “iya, uang Rp.5000,- itu adalah nikmat”

“benarkah itu nikmat?”pria itu memberikan pertanyaan lagi

“ehm..“ kami malah menjadi ragu dengan jawaban yang baru saja diutarakan sendiri setelah dilontarkan pertanyaan tersebut.

“ ya jelas bukanlah“jawab pria itu. Sambil tersenyum lebar hingga gigi-giginya yang kecil rada ompong itu kelihatan semua.

“kenapa bukan, karena arti dari nikmat adalah sesuatu yang bisa kita rasakan, bukan sesuatu yang kita miliki“ jelas pria itu melanjutkan jawabannya yang  malah membuat kami bingung.

karena kami masih terlihat kebingungan dia memperjelas lagi “uang Rp.5000,- yang ada di saku ade tadi itu memang milik ade, tapi jikalau uang itu hilang terus uang itu ada yang menemukan ? kemudian orang yang menemukan  uang itu membeli es misalnya, jadi apa yang ade rasakan dengan uang itu, adakah nikmat?“ jelas pria itu panjang lebar, sedangkan kami hanya bisa saling  memandang dan mendengarkan saja. “yang merasakan nikmat adalah orang yang menemukan uang Ade tadi, kenapa ? karena yang menemukan uang itu dialah yag merasakan nikmatnya es. sedangkan ade hanya memiliki uang itu tapi tidak merasakan apa-apa dengan uang itu karena hilang tadi. jadi dialah yang mendapat nikmat“

kami hanya menjawab “ooh“ sambil mengangguk-ngangguk.”jadi, nikmat adalah apa yang kita rasakan, bukan apa yang kita miliki”

perbincangan kami pun selesai setelah penjelasan tentang nikmat. setelah itu kamipun berpisah. Dengan saling bersalaman Saya dan sahabat saya pulang dengan membawa sepeda butut  dan sebuah motivasi yang berisi pelajaran berharga dari Pria setengah baya yag tak dikenal kami sebelumnya. Pria itu pulang dengan sepeda motornya yang terlihat sangat sederhana, kemudian menjauh pergi dari pandangan mata kami. kamipun berpisah dari tempat yang penuh barokah itu dengan satu pelajaran berharga yaitu arti #Nikmat.

About Kholidun

sekarang lagi ingin terus dan terus belajar untuk menambah ilmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: